Sebagai pintu gerbang utama jamaah haji dan umrah dari seluruh penjuru bumi selama berabad-abad, Al-Balad (Kota Tua Jeddah) memancarkan romantisme sejarah pesisir Laut Merah yang tiada duanya di Semenanjung Arabia.
1. Seni Arsitektur Rawasheen yang Menakjubkan
Keunikan visual Al-Balad yang diakui UNESCO terletak pada rumah-rumah menara berbahan batu karang laut yang dihiasi jendela kisi-kisi kayu ukir berwarna-warni yang disebut Rawasheen.
Rawasheen bukan sekadar elemen estetika, melainkan solusi arsitektur cerdas zaman dulu yang berfungsi menangkap hembusan angin sejuk Laut Merah, memberikan sirkulasi udara alami, sekaligus menjaga privasi penghuni wanita di dalam rumah agar tidak terlihat dari jalanan.
2. Mengunjungi Rumah Bersejarah Beit Nassif
Dibangun pada akhir abad ke-19 untuk Gubernur Jeddah, Beit Nassif memiliki 106 kamar dan dirancang dengan tangga landai yang sangat lebar agar kuda dapat dinaiki langsung hingga ke lantai atas untuk mengantar air bersih dan perbekalan. Di sinilah Raja Abdulaziz Al Saud pertama kali singgah saat memasuki kota Jeddah pada tahun 1925.
3. Menikmati Suasana Pasar Tradisional Souq Al Alawi
Menyusuri lorong-lorong batu Al-Balad membawa jamaah ke Souq Al Alawi, pasar tertua di Jeddah yang menjual aneka rempah-rempah eksotis, kayu gaharu wangi (oud), perhiasan perak tradisional, dan jubah sutra khas saudagar Hijaz.